Selasa, 16 Agustus 2011

PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI MANUSIA

PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI MANUSIA
OLEH : Saiful Bahri Yusuf

BAB I
Pendahuluan
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi membentuk masyarakat dunia yang saling ketergantungan. Tatanan dunia mulai mengalami perubahan secara stuktural menuju era globalisasi dalam berbagai berbagaibidang kehidupan . Tatanan dunia saat ini ditandai oleh persaingan antar bangsa ,stabilitas kehidupan suatu bangsa dan hubungan antar bangsa akan memainkan peranan penting. Bagi bangsa Indonesia,abab 21 adalah agrarabab perubahan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri dan informasi dengan pola- pola kehidupan yang berbeda. Tilaar (1998 :4) mengendentifikasikan berbagai kekuatang global;
Kekuatan global pada umumnya bemuara pada empat kekuatan yakni (1) kemajuan iptek terutama dalam bidang informasi serta inovasi-inovasi baru didalam tehnologi yang mempermudah kehipan manusia, (2) perdagangan bebas yang ditunjang oleh kemajuan Iptek (3) kerjasama regional dan Internasional yang telah menyatukan kehidupan bangsa-bangsa tanpa mengenalbatas negara dan (4) meningkatkan kesadaran hak azasi manusia serta kewajiban manusia dalam kehidupan bersama dalam demokrasi.

Sumber daya manusia yang siap dalam menghadapi era globalisasi tersebutharus memiliki pendidikan yang tinggi dengan indikator sederhana adalah lulusan perguruan tinggi. Sementara saat ini masih terdapat sumber daya manusia yang lemah dengan pendidikan yang rendah, ekonomi yang kurang dan bahkan ahklak yang kurang baik. Tujuan pendidikan sekolah menengah dalam undang- undang sestem pendidikan Nasional Nomor 2 tahun 1989 pasal 15 adalah,
Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.
Pada hakikatnya pendidikan adalah “usaha orang dewasa secara sadar untuk membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal”. Selanjutnya Bratanusa yang diterjemahkan oleh Abu Ahmadi (1991:69) menjelaskan pengertian pendidikan adalah “usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan”. Kemudian Rousseau yang diterjemahkan oleh Abu Ahmadi (1991:69) mengemukakan pendidikan adalah “ memberi kita pembekalan yang tidak ada pada anak-anak, akan tetapi bias membutuhkan pada waktu dewasa”.
Dengan demikian berarti pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu perlua adanya landasan yang kuat tentang pendidikan dalam berbagai aspek kehidupan. Untuklebih jelas mengenai aspek-aspek tersebut dapat dilihat uaraian berikut.




BAB II LANDASA TEORI

A. Pendidikan dan Landasan
Landasan filosofis adalah membicarakan atau mengkaji dasar pendidikan yang” merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar, sistematis dan kontiniu untuk mengembangkan potensi peserta didik baik kognetif, affektif maupun psikomotoris” . Ketiga domain ini tidak terlepas tentang adanya sesuatu (Ontologi), menganai adanya Tuhan (Theologi), adanya alam (Cosmologi) dan mengenai adanya manusia (Antropologi) dikenal dengan filsafat spekulatif , dan perlu adanya cara untuk mengetahui yang ada melalui berbagai teori , baik teori pengetahuan (Epistimologi) disebut dengan filsafat analitis, teori kebenaran maupun teori ketepatan atau logika dan setelah mengetahui yang ada, perlu adanya penilai yang terhadap yang ada (Axiologi) baik dengan relegi, etika maupun estetika, dikenal dengan filsafat preskriptif.
Landasan Psikologis pendidikan mengkaji hakikat dan mekanisme perkembangan manusia dan kepribadiannya, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut serta implikasinya pada proses pendidikan
Landasan Sosiologis mengkaji mekanisme interaksi sosial dalam lingkungan pendidikan dan pranata pendidikan dengan pranata-pranata di luar lembaga pendidikan. Seperti agama, idiologi, keyakinan hidup, politik sosial ekonomi dan kebudayaan) berserta pengaruh terhadap implikasi pendidikan.
Landasan Atropologi mengkaji pengaruh kebudayaan terhadap pendidikan, mekanisme operasi dari kebudayaan dalam kerangka pendidikan sebagai proses pengembangan potensi insani dan implikasi dari ledakan teknologi, nilai-nilai lokal kemasyarakatan bahwa dalam lingkungan persekolahan maupun di luar sekolah (lembaga dan masyarakat)
Landasan yang paling dominan dalam mewarnai penyelenggaraan pendidikan adalah landasan filosofis, karena pandangan ini menekankan pada tanggung jawab. Seseorang manusia terhadap kehidupan dan pendidikan sendiri, filosofis pendidikan antara lain bertitik tolak dari hakikat manusia dan hakikat anak. Anak manusia mempunyai hakikatnya sendiri dan berbeda dengan hakikat orang dewasa. Anak mempunyai nilai-nilai seperti orang dewasa, walupun ia bukan orang dewasa.
Dengan alasan bahwa pandangan filosofis ini melahirkan suatu ilmu pendidikan yang melekat hakikat anak sebagai titik tolak proses pendidikan. Pandangan filosofis yang mengakui nilai-nilai anak yang khas juga mengakui akan perkembangan etik serta relegi anak yang khas yang harus dihormati dalam proses pendidikan, yang dilakukan oleh manusia untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu manusia merupan kunci atau motor penggerak pendidikan. untuk lebih jelas dapat dilihat uraian berikut.
B. Hakikat Manusia
Pada hakikatnya manusia adalah sebagai makhluk pribadi adan segaligus sebagai makhluk sosial, yang memiliki norma-norma pergaulan yang bersumber pada agama, hukum maupun adat kebiasaan.
Manusia pada hakikatnya adalah homo faber (makhluk kreatif), sebagai homo sapien (makhluk berbudi) dan juga sebagai makhluk relegi (makhluk bertuhan). Manusia itu pada hakikat tumbuh dan berkembang baik fisik maupun mental spiritual.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang lebih sempurna dibandingkan makhluk lainnya, karena manusia mempunyai akal sehingga manusia dapat menciptakan perubahan menuju kepada kemajuan. Oleh karena itu manusia merupakan khalifat di bumi yang mampu mempengaruhi makhluk lain, maka benar pernyataan di atas bahwa manusia merupakan kata kunci dalam penyelenggaraan pendidikan.

C. Lingkungan Pendidikan
Pendidikan dalam keluarga terjadi proses transpomasi nilai-nilai dalam rangka membudayakan manusia muda menjadi manusia berbudaya . Proses pembudayaan anak dalam keluarga ini bersumber dari konsekwensi perkawinan antara pria dan wanita. Konsekwensi perkawinan tersebut dikuatkan dengan disahkan perkawinan tersebut secara adat-istiadat agama dan secara hukum pengesahan perkawinan membawa konsekwensi adanya tanggung jawab terhadap pengembangan pertumbuhan anak menjadi pribadi yang diharapkan baik keluarga, masyarakat maupun negara.
Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu : sebagai prestasi masyarakat dan sebagai penghasil tenaga. Sebagai produser kebutuhan pendidikan masyarakat, sekolah dan masyarakat memiliki ikatan hubungan yang rasional keduanya. 1)adanya kesesuaian antara fungsi pendidikan yang diberikan oleh sekolah dengan apa yang dibutuhkan masyarakat, 2) ketepatan sasaran atas target pendidikan yang dimainkan oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan 3) keberhasilan penelitian fungsi sekolah sebagai layanan pesanan masyarakat akan dipengaruhi oleh ikatan objektif diantara keduanya.
Pengembangan masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern berjalan secara sistemik, dimana lembaga-lembaga pendidikan yang ada secara terpadu menjadi pelaksana proses pendidikan untuk mencapai tujuan masyarakat yang dicita-citakan.
D. Pentingnya Pendidikan
Dalam konteks dengan lahirnya UU Otonomi Daerah dan UU Keistimewaan dilajutkan dengan Perda No. 6 tahun 2000 tentang penyelenggaraan pendidikan, maka aliran konvergensi perlu divisualisasikan secara tepat dan benar yang dilandasi pada nilai-nilai adat budaya masyarakat . Karenanya pengembangan SDM sebaiknya disesuaikan pada bakat, minat kebutuhan anak yang bersangkutan, kemudian faktor saftwware, hardware menjadi perioritas yang harus diperhatikan oleh para pengambil kebijakan di daerah Istimewa . Salah satu strategi mengaktualisasikan aliran dan filisofi tersebut dengan dilaksanakan Community Base Manjement and school base manajement.
Dalam kehidupan masyarakat bahwa kelahiran seorang anak diawali pendengaran utama dan pertama yaitu bagi bagi anak laki-laki azan dan anak perempuan iqamah. Ini membuktikan upaya sadar orang tua mengharapkan anaknya mempunyai basis filosofis Islam. Karena itu tahap selanjutnya adalah orang tua mengharapkan anaknya dari kata-demi kata dan tindakan demi tindakan yang mengarah kepada pembentukan sikap dan tingkah laku yang baik. Dalam hal budaya peran orang tua sangat besar bila dilihat dari penjelasan tersebut di atas. Dan selanjutnya orang tua dengan sadar mengantar anaknya ke pendidikan formal di sekolah.
Untuk membangun pendidikan yang lebih baik di masa depan, tentu saja kita harus berkaca kepada masa lalu dan masa kini, sebab masa depan juga berada pada masa lalu dan masa kini :
Pembangunan nasional dibidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujutkan masyarakat yang maju, adil dan makmur, serta memungkinkan pada warganya mengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Secara sederhana masalah pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam empat hal yaitu : 1) masalah pemerataan; 2) masalah mutu; 3) masalah efektivitas; dan relevansi; 4) masalah efisiensi
Berkenaan dengan masalah pemerataan pendidikan Suparna (1987) menegaskan bahwa “ pertumbuhan penduduk yang cepat menimbulkan akibat yang luas terhadap segala segi kehidupan termasuk dalam segi pendidikan”. Meledaknya jumlah anak usia sekolah dapat mengakibatkan berkurangnya kesempatan belajar jika tidak diiringi dengan pertambahan daya tampung, yang berarti harus menambah jumlah sekolah dan ruang kelas baru. Hal ini yang menjadi masalah dalam pemerataan kesempatan belajar adalah terjadinya krisis keamanan sehingga menyebabkan banyak masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya ke daerah yang relatif lebih aman, yang mengakibatkan melimpahnya daya tampung diperkotaan dan kekurangan murid di daerah konplik.
Dalam masalah mutu, Suparna (1987) menegaskan bahwa “ perlu meningkatkan fasilitas yang diperlukan untuk mempetinggi mutu sistem pendidikan yang dilakukan, mengutamakan pendidikan keterampilan yang telah ada yang paling sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja”
Kenyataan menunjukkan bahwa lulusan pendidikan di Indonesia (lebih-lebih di ) belum mampu memenuhi ketentuan tenaga kerja, masih banyak lulusan pendidikan yang tidak mendapat kesempatan kerja dengan alasan kurang terampil dan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Menghadapi masalah tersebut. Mendikbud, ketika dijabat oleh Wardiman Joyo Negoro, memprakarsai program “ Link and match, prinsip ini telah mereduksi pendidikan nasional sebagai tempat pendidikan tenaga kerja” (Tilaar : 2000) Permasalahan yang dihadapi tentang efektivitas dan relevansi belum efektifnya penyelenggaraan pendidikan karena tanggung jawab pendidikan masih berada pada banyak tangan.
Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan pendidikan yang tidak terkoordinasi sangat tidak efektif. Dalam hal ini Nanang Fattah (2000) menegaskan bahwa ” Hubungan koordinatif merupakan pola hubungan yang menunjukkan hubungan antara unit dalam organisasi bertujuan mensingkronkan, saling mendukung, supaya searah dan tidak tumpang tindih”.
Jadi agar tujuan pendidikan dapat tercapai sebagai mana dihendaki, maka lembaga-lembaga yang berwenang membina pendidikan karena mempunyai jaringan koordinatif agar penyelenggaraannya efektif. Menyangkut dengan relevansi, telah menjadi masalah yang berkaitan dengan kebutuhan lapangan kerja. Lulusan pendidikan yang diperlukan oleh pasar tenaga kerja adalah yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan daerah.
Masalah pendidikan yang dihadapi sangat komplek. Adanya proses pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi sangat diperlukan mengingat akan kebutuhan dana pendidikan. Hal ini penting karena sistem sekolah dengan segala kekuranganya ternyata memerlukan biaya amat besar. Untuk membayar pada guru saja, meliputi 80 %, dan yang lain seperti gedung, buku, alat pelajaran dan fasilitas lain dibebankan kepada orang tua (Suparna 1987).
Pendidikan membutuhkan bantuan dari semua sektor kehidupan, namun akhirnya bantuan itu akan kembali. Pendidikan mengundang warga negara terbaik tidak hanya untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan pendidikan yang berlangsung melainkan juga dalam usaha meningkatkan mutu, efisiensi dan produktivitas. Meningkat keterlibatan masyarakat masih diperlukan. Ssehubungan dengan hal ini, P.H Combs menegaskan bahwa “masalah efesiensi masih menjadi perhatian agar pendidikan dapat berhasil maksimal dengan bantuan biaya yang sangat rendah”.
Dihubungkan dengan langkah penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas menghadapi tantangan global, yang menjadi fokus pemecahannya adalah : masalah relevansi dan mutu pendidikan artinya pendidikan itu harus sesuai dengan pembangunan nasional. Adanya keterkaitan yang tinggi antara bekal pendidikan yang diberikan kepada seseorang/ masyarakat sehingga mareka dapat mengabdi pada kepentingan nasional, regional maupun masyarakat. Perubahan dan perkembangan masyarakat yang cepat tersebut memerlukan penyesuaian pengetahuan, keterampilan sikap-sikap dari seseorang atau masyarakat yang menghadapi tantangan masalah dan hajat hidup baru.
Mengembangkan sikap yang cocok untuk tuntutan hidup dan kehidupan kini, dan akan datang. Keempat arah dasar tersebut, pendidikan dapat menghasilkan corak manusia Indonesia yang dapat diharapkan memiliki rasa civic concionsness, community, responsibiliti dan partisipasi terhadap pembangunan.
Pendidikan yang relevansi dengan pembangunan di Indonesia adalah pendidikan yang benar-benar mempersiapkan manusia pembangunan yang berpancasila. Hasil lulusan pendidikan dapat mengisi lapangan kerja dan dapat pula membuka lapangan kerja yang berguna bagi diri, masyarakat dan bangsa. Selain masalah relevansi, maka masalah mutu pendidikan harus juga diutamakan. Mutu pendidikan diartikan setiap lulusan lembaga pendidikan harus benar-benar mempunyai pengetahua, keterampilan, dan sikap yang dapat diandalkan dalam bidang pekerjaan. Mareka menjadi tenaga kerja yang profesional dalam bidang pembangunan. Di Indonesia, tenaga kerja profesional diperlukan dalam setiap aspek kehidupan manusia sehingga dapat mengolah sumber-sumber alam yang mendatangkan kesejahteraan masalah baik secara nasional maupun regional.
Langkah dalam memecahkan persoalan tentang pendidikan di pemerintah daerah harus menempuh langkah-langkah strategi dan kebijakan yang konvensional, misalnya dengan menambah jumlah sekolah, meningkatkan jumlah
Secara sistemik pendidikan merupakan sub sistem dari sistem pembangunan. Dalam konteks lebih kecil, ia dapat dilihat pula sebagi sebuah sistem yang yang terdiri dari sub sistem pendidikan persekolahan dan sub sistem pendidikan luar sekolah. Dalam konteks lebih kecil lagi sub sistem pendidikan persekolahan juga dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen sistemnya. Sub sistem pendidikan luar sekolah juga dapat ditelusuri sebagai suatu sistem yang di dalamnya juga ada sub-sub sistemnya. Begitu seterusnya yang oleh K.H Dewantara disebut dengan Tri Pusat Pendidikan.
Merujuk pada pendapat Tilaar (2000) yang menyatakan bahwa pendidikan tidak terlepas dari politik, sungguhpun pendidikan tidak dapat menggantikan fungsi politik. Namun, tanpa pendidikan sungguh peran dan kualitas politik akan tidak sempurna. Dan pendidikan pula yang amat besar artinya bagi kehidupan ekonomi, hukum, kebudayaan, agama, dan lain sebagainya. Konon, dalam mukandimah UUD 1945 telah ditegaskan dengan gamblang bahwa salah satu tujuan membentuk negara RI adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam GBHN 1999 juga ditegaskan bahwa, pendidikan merupakan bagian dari sistem pembangunan nasional. Oleh karenanya, ia adalah sub sistem yang berkaitan erat dengan subsisten lainnya, seperti subsistem ekonomi, hukum, politik, agama, kebudayaan dan sebagainya. Sebagai konsekwensi logis dari hakikat kesisteman (sistemik) bahwa pendidikan sebagai salah satu sub sistem, senantiasa akan dipengaruhi dan mempengaruhi sub sistem lainnya dalam dinamika sistem pembangunan nasional.
Pada tingkat makro, sub sistem pendidikan bukan hanya dipengaruhi dan mempengaruhi berbagai sektor pembangunan nasional, tetapi juga oleh berbagai kondisi perkembangan duni secara global. Sedangkan pada tataran mikro, khususnya dalam lingkup sistem pendidikan, khususnya pendidikan sekolah kita dihadapkan pada persoalan kebijakan pusat dan daerah, demokrasi pendidikan, soal kualitas pendidikan muatan materi kurikulum, persoalan biaya yang masih terbatas, dan persoalan relevansi program, mutu, dan kebutuhan yang sesuai dengan harapan keluarga dan masyarakat.
Sekaolah, keluarga dan masyarakat adalah pranata pendidikan :
Pernyataan ini ada benarnya, bila kita melihat dari konsepsi tri pusat pendidikan yang dikemukakan oleh K. H Dewantara. Dikata benar karena hakikat pranata adalah suatu sistem norma yang khusus, dan memiliki kekuatan untuk mengatur dan mempengaruhi prilaku, baik individu kolompok maupun organisasi. Bila kita merujuk lagi pada Koentjaraningat (antropolok ternama) tentang hal ini, ia menyebutkan bahwa pranata itu adaslah pola-pola peri laku yang teratur dan terjadi dalam proses interaksi antar manusia baik yang terjadi dalam lembaga resmi ataupun tdak resmi. Lembaga resmi disebut intitusi yang biasanya lebih teratur melaksanakan pola-pola interaksi tadi.
Pranata dapat diklasifikasi sesuai peran, fungsi dan fokus sebagai implementasi akikat keberadaannya. Atas dasar ini, kita mengenai adanya pranata yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan cinta kasih, kekerabatan, seks dan seterusnya yang kemudian melahirkan pranata perkawinan dan keluarga. Begitu pula halnya dengan pranata yang berfungsi untyuk memenuhi kebutuhan pendidikan, kecerdasan, moral, keagamaan dan seterusnya, yang kemudian melahirkan sekolah-sekolah. Demikian pula dengan kebutuhan akan politik, kekuasaan, kedaulatan, kehidupan bersama dan seterusnya, yang kemudian melahirkan partai politik, pemerintahan, masyarakat, parlemen atau DPR dan negara.
Keseluruhan pranata ini sangat berpenagruh terhadap dunia pendidikan bagitu pula sebaliknya. Sekolah sebagai pranata pendidikan akan selalu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh masyarakat, misalnya dalam hal kualitas lulusan yang ideal yang sesuai kebutuhan masyarakat. Bila hal ini tidak dapat dipenuhi, maka implikasinya terhadap pranata pendidikan pasti ada, dan begitu juga sebaliknya. Pranata ekonomi yang terfokus dalam fungsinya untuk mendatangkan kemakmuran kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan fisik lainnya, akan sangat berarti bagi masyarakat. Tetapi bila hal ini disanggupi, bila tidak maka implikasinya akan ada, tentunya yang sesuai dengan itu. begitu juga dengan berbagai pranata lainnya dalam bidang hukum agama, kesenian, politik, pertahanan keamanan kebudayaan adat dan seterusnya.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

John Vaizey (1982) Pendidikan di Dunia Modern, Gunung Agung Jakarta

M. Ngalim Purwanto, Drs. (1975), Administrasi Pendidikan, Mutiara, Jakarta.

Nanang fatah ( 2000) Landasan Manajemen Pendidikan, Remaja Rosda Karya Bandung

Otang Sutrisna, Prof. Dr, MSc. Ed, (1998) Administrasi Pendidikan. Gunung Agung,

Soegarda Pourbakawatja, Kamus Ensiklopedi Pendidikan, Gunung Agung, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar